Auditorium UIN Syahada: PBAK FTIK Usung Semangat Ki Hajar Dewantara

PADANGSIDIMPUAN – Auditorium UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menjadi saksi kehangatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang diselenggarakan secara terpusat.

Acara yang dihadiri pimpinan fakultas dan seluruh Kepala Program Studi ini menyimpan pesan mendalam: perjalanan akademik bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan membangun jiwa dan kesiapan masa depan.

Kehadiran Dr. Akhiril Pane, S.Ag., M.Pd. (Wakil Dekan Bidang Akademik & Pengembangan Lembaga) dan Dr. Muhlison, M.Ag. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni & Kerjasama) menegaskan dukungan penuh dari berbagai sisi.

Namun, momen puncak yang mengubah pandangan peserta datang dari motivasi Dekan, Dr. Hamka, M.Hum., yang mengangkat kembali ajaran luhur Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.”

Di tengah acara yang berjalan khidmat itu, muncul penegasan nyata dari struktur pengelolaan fakultas yang memperkuat pesan dekan.

Dr. Akhiril Pane menekankan aspek landasan akademik: “PBAK adalah fondasi memahami standar dan melatih kompetensi diri. Lembaga terus membenahi sistem agar setiap langkah terarah sesuai semangat pilar pendidikan menghasilkan pendidik berintegritas yang siap bersaing.”

Wakil Dekan bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Akhiril Pane juga menyampaikan bahwa mahasiswa bisa menyelesaikan tepat waktu perkuliahan sebanyak 144 SKS selama 8 semester, dengan kesungguhan dalam kuliah.

Sementara itu, Dr. Muhlison menyempurnakan dengan sentuhan pengembangan potensi dan jejaring: “Kami hadir mendampingi kalian sepanjang masa studi. Pendidikan tidak hanya mengasah otak, tapi juga melatih hati memanusiakan manusia. Manfaatkan dukungan kemahasiswaan, pengalaman alumni, serta jaringan kerjasama yang kami bangun sebagai jembatan masa depan kalian.”

Perubahan pandangan terjadi saat Dr. Hamka mengungkapkan hal yang mungkin jarang disadari: di balik karakter dan potensi yang dibangun, FTIK telah menyiapkan infrastruktur modern yang menyatukan nilai kemanusiaan dan kemajuan zaman. “Manusia punya hati, rasakanlah perasaannya; punya potensi, tingkatkanlah itu. Dan yang membuat kami berbeda: seluruh pelayanan fakultas telah berbasis teknologi dan digitalisasi semua berpusat pada kebutuhan mahasiswa, tetap mendidik dan humanis,” ungkapnya memukau hadirin.

Kini mahasiswa baru memahami; mereka tidak hanya mendapatkan warisan nilai luhur pendidikan nasional dan pendampingan menyeluruh dari pimpinan fakultas, tetapi juga memasuki lingkungan akademik yang menggabungkan kehangatan kemanusiaan dengan kemudahan layanan digital modern.

PBAK ini bukan sekadar pengenalan lingkungan melainkan awal transformasi menjadi insan cerdas, berhati mulia, dan siap menjawab tantangan zaman.