AI dan Teknologi: Pisau Bermata Dua di Dunia Akademik

Padangsidimpuan; Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menggelar Forum Riset dan Inovasi Pendidikan Islam (FORVADIS) di Aula FTIK, Rabu (9/9).

Kegiatan berlangsung pukul 09.00 WIB hingga selesai, dihadiri puluhan dosen, tenaga administrasi, serta perwakilan mahasiswa yang antusias menyimak pembahasan seputar tantangan dan peluang era digital.

Acara dibuka Dekan FTIK, Dr. Hamka, M.Hum. Dalam sambutannya beliau menegaskan: “Kecerdasan Buatan atau AI pada hakikatnya hanyalah alat, ibarat pisau bermata dua. Ia dapat memberi manfaat besar sekaligus dapat melukai. Arah dan kemanfaatannya sepenuhnya bergantung pada etika akademik yang kita pegang teguh dalam setiap langkah.”

Beliau berharap forum ini melahirkan gagasan segar dan memperkuat budaya riset yang bermutu.

Narasumber utama, Dr. Abdussima Nasution, M.A., membuka paparan dengan pertanyaan kritis: “Apakah kemajuan digital membawa kemaslahatan atau justru kekhawatiran?

Beliau menjelaskan, dampak teknologi bersifat multidimensi dan seimbang. Ke arah mana ia berjalan, sepenuhnya ditentukan oleh konteks penggunaan, durasi pemakaian, tingkat literasi, dan kepatuhan kita terhadap etika akademik.

Lanjut beliau, ada tiga hal pokok yang menjadi fokus kajian kali ini: hakikat digitalisasi, dampak yang ditimbulkan, serta pentingnya menjadikan etika sebagai pagar yang tak boleh roboh.

Tanpa fondasi etika yang kuat, kemajuan teknologi justru berisiko menurunkan martabat ilmu pengetahuan dan mencederai kejujuran akademik yang selama ini kita jaga.

Beliau kemudian menancapkan inti pesannya: “Prinsip etika akademik sejajar sepenuhnya dengan sifat Rasulullah SAW: Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Kejujuran, kepercayaan, menyampaikan kebenaran, dan kecerdasan yang bermanfaat itulah kompas agar AI tetap menjadi alat, bukan pengganti nurani kita.”

Suasana diskusi berlangsung memanas namun tetap beradab. Sesi tanya jawab melahirkan pertukaran gagasan yang tajam dan saling melengkapi.

Berbagai pandangan kritis diajukan, memperkaya wawasan seluruh peserta yang hadir. Kegiatan ini pun menjadi penanda kesadaran bersama: teknologi harus tunduk pada etika, bukan sebaliknya.