Dari Sarung hingga Kereta Cepat: Itu Semua Fisika!

PADANGSIDIMPUAN – Selama ini banyak yang mengira fisika itu kaku, penuh rumus sulit, dan hanya milik laboratorium berperalatan canggih.

Padahal rahasia sains tersembunyi tepat di depan mata kita: dari cara kita memeras baju basah, lipatan sarung yang melilit di pinggang, hingga kokohnya gundukan pasir di pinggir pantai.

Pandangan ini yang diusung dalam Seminar Nasional bertajuk “Redesain Pembelajaran Fisika Berbasis Phenomenon-Based Learning (PhBL)” yang digelar Program Studi Tadris Fisika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan, Rabu 24 Juni 2026.

Acara yang berlangsung secara luring di Aula Perpustakaan UIN Syahada dan daring lewat Zoom ini menghadirkan pakar fisika ternama, Prof. Dr. Eng. Mikrajuddin Abdullah dari Institut Teknologi Bandung.

Ratusan peserta mulai dari pimpinan kampus, dosen, guru fisika, hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, antusias mengikuti setiap sesi pemaparan.

Kita sering terjebak mengajarkan fisika hanya sebagai kumpulan rumus, padahal asalnya adalah pertanyaan tentang apa yang kita lihat dan rasakan sehari-hari,” ujar Ketua Panitia sekaligus Ketua Prodi Tadris Fisika, Yenni Khairani Lubis, M.Sc. saat membuka acara.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis fenomena ini tak sekadar mengubah cara mengajar, tapi juga menyelaraskannya dengan visi khas UIN Syahada: memadukan sains dengan nilai spiritual, kemanusiaan, dan pelestarian alam.

Setiap fenomena di sekitar adalah tanda kebesaran Tuhan yang layak kita telusuri dengan akal dan hati,” tambahnya.

Saat tiba gilirannya berbagi, Prof. Mikrajuddin langsung memikat peserta dengan contoh-contoh yang sangat akrab di telinga.

Ia menceritakan bagaimana ia dan timnya merumuskan persamaan fisika dari hal-hal sederhana: mulai dari lekukan kembang api saat dibakar, cara air keluar dari kain yang dipelintir, kestabilan permainan engklek, hingga bagaimana jalan raya terlihat buram saat hujan turun.

Kami tidak butuh alat canggih mahal untuk memulai penelitian. Cukup berani bertanya ‘mengapa’ pada apa yang ada di depan mata,” jelasnya.

Hasilnya? Penelitian dari hal-hal sehari-hari itu pun terbit di jurnal internasional bereputasi tinggi.

Poin yang paling memukau peserta adalah penjelasan tentang biomimikri, ilmu meniru cara alam bekerja untuk menciptakan teknologi baru.

Siapa sangka kereta cepat Shinkansen di Jepang yang senyap saat melesat keluar terowongan, bentuk ujungnya meniru paruh burung kingfisher yang bisa menyelam ke air tanpa memercikkan banyak riak?

Atau baju renang yang pernah mendominasi Olimpiade 2000-an, permukaannya meniru sisik ikan hiu agar hambatan air berkurang drastis.

Bahkan gedung perkantoran di Zimbabwe yang hemat listrik karena tidak butuh banyak pendingin ruangan, sistem ventilasinya meniru cara rayap menjaga suhu sarang mereka tetap stabil di tengah cuaca ekstrem.

Alam sudah miliaran tahun bereksperimen, menyempurnakan bentuk dan fungsi. Tugas kita hanya memperhatikan, memahami, lalu menerapkannya untuk kebaikan bersama,” ujar Prof. Mikrajuddin.

Dekan FTIK UIN Syahada, Dr. Hamka, M.Hum., menyambut baik gagasan ini. Ia berharap peserta yang hadir bisa membawa semangat baru ke ruang kelas.

Biarkan anak-anak tidak takut lagi pada fisika. Biarkan mereka belajar dari apa yang mereka temui di lingkungan sendiri, menggabungkan kearifan lokal dengan sains modern,” katanya.

Seminar ini pun ditutup dengan antusiasme peserta yang tak berkurang meski berlangsung hingga siang.

Banyak yang berharap ada kegiatan serupa berikutnya, karena terbukti fisika itu bukan pelajaran yang menakutkan, ia adalah cerita tentang kehidupan, tentang tanda-tanda Tuhan, dan tentang kemampuan kita memanfaatkan apa yang ada di sekitar untuk kemajuan.