FORVADIS FTIK UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan Bahas Krisis Paradigma Penelitian Kualitatif
Padangsidimpuan –Forum Riset dan Inovasi Pendidikan Islam (FORVADIS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan digelar secara resmi dan dibuka oleh Dr. Suparni, M. Si, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan FTIK. Dalam sambutannya, beliau berharap forum ini menjadi ruang untuk memperoleh insight serta informasi baru dari narasumber yang telah diundang.
Salah satu narasumber utama dalam kegiatan tersebut adalah Dr. H. Anhar, M.A. Beliau menyampaikan materi mendalam tentang fenomena kuatnya mode berpikir kuantitatif yang masih mencemari praktik penelitian kualitatif di kalangan mahasiswa PTKIN, termasuk di lingkungan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.
Menurut Dr. H. Anhar, M.A., banyak mahasiswa menganggap dirinya melakukan penelitian kualitatif, namun sebenarnya masih terjebak paradigma positivistik. Ia menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif bergerak pada ranah variabel, sebab‑akibat, pengukuran dan generalisasi. Sementara penelitian kualitatif seharusnya bergerak pada ranah makna, kedalaman konteks, perspektif emik‑empatik, serta deskripsi tebal dari fenomena lapangan.

Beliau menyoroti sejumlah kekeliruan yang kerap terjadi. Pertama, mahasiswa sering mengambil data secara permukaan tanpa membangun kedekatan emik‑empatik dengan informan. Kedua, masih banyak yang memaksakan unsur kuantitatif seperti definisi operasional, variabel, hipotesis, serta instrumen kaku ke dalam desain penelitian kualitatif. Ketiga, fokus penelitian sering melebar sehingga kehilangan kedalaman. Keempat, teori dijadikan kerangka yang mengikat untuk memaksa masuknya data, padahal seharusnya teori hanya berperan sebagai pemandu analisis. Kelima, kesimpulan sering diarahkan pada generalisasi layaknya penelitian kuantitatif, padahal kualitatif lebih menekankan penemuan pola makna.
“Penelitian kualitatif bukan berarti sekadar pergi ke lapangan. Ia membutuhkan paradigma alamiah yang benar‑benar membiarkan fenomena tampak secara alamiah,” tegas Dr. H. Anhar, M.A.
Dr. Suparni, M. Si dalam pembukaan menyatakan bahwa FORVADIS bukan sekadar kegiatan diskusi biasa, melainkan ruang pembentukan kesadaran riset bagi mahasiswa dan dosen. Beliau berharap melalui forum ini lahir pemahaman baru tentang cara berpikir ilmiah yang sesuai dengan karakter keislaman dan humaniora.
Kegiatan FORVADIS ini menjadi momentum penting bagi FTIK untuk terus mendorong riset yang tidak hanya memenuhi syarat administratif skripsi, tetapi juga memiliki kedalaman paradigma. Sebab riset yang benar lahir bukan hanya dari teknik mengumpulkan data, melainkan dari cara memandang realitas secara jujur.
